Categories
Berita

Pertumbuhan ekonomi zona euro melambat

Faktor penyebab perlambatan itu disebutkan persoalan ekonomi Italia dan terganggunya produksi mobil di Jerman. Uni Eropa (UE) sedang berselisih dengan pemerintahan populis Italia mengenai rancangan anggarannya yang berpotensi menambah defisit, padahal beban utang publik sangat tinggi. Italia, yang merupakan negara perekonomian terbesar ketiga di zona euro, pada Agustus 2018 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 1,5% menjadi 1,2%. Bulan ini, lembaga pemeringkat Moody’s memangkas peringkat kelayakan kredit Italia menjadi hanya satu level di atas status sampah. Laporan badan statistik UE, Eurostat di Brussels, Belgia menyebutkan, secara tahunan ekonomi zona euro tumbuh 1,7% pada triwulan tiga 2018. Angka tersebut juga jauh di bawah raihan 2,2% pada kuartal sebelumnya. Bert Colijn, ekonom senior ING mengatakan, angka pertumbuhan 0,4% pada kuartal II saja sudah mengecewakan. Dengan keluarnya data terbaru, angka kuartal sebelumnya itu dapat menunjukkan akhir dari siklus pertumbuhan. Terganggunya produksi mobil di Jerman terkait uji coba aturan emisi baru.

Proses ini dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Jerman. Namun menurut Colijn, perkembangan di Italia lebih mengkhawatirkan. “Yang lebih mengkhawatirkan mungkin adalah stagnasi pertumbuhan di Italia, karena untuk pertama kalinya dalam empat tahun tidak membukukan pertumbuhan dalam satu kuartal. Di tambah ketegangan anggaran antara Italia dan UE, stagnasi ini akan menambah kekhawatiran,” tutur Colijn. Tapi Jessica Hinds dari Capital Economics memberi penilaian lebih optimistis. Menurut dia, perlambatan pertumbuhan ini disebabkan faktorfaktor sementara. Ia memperkirakan beberapa pemulihan dalam kuartalkuartal mendatang. Respons Pasar Namun begitu, indeks-indeks saham Eropa turun pada Selasa, karena Wall Street juga memperpanjang penurunan. Indeks Frankfurt dan Paris turun sekitar 1%. Nilai tukar euro juga melemah lagi sehari setelah Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan akan mundur pada 2021. “Indeksindeks Eropa sudah menyerah hingga bergerak turun,” ujar analis IG Chris Beauchamp. Perlambatan produk domestik bruto (PDB) zona euro itu, tambah dia, tidak banyak membantu sentimen di Eropa. Angka-angka pertumbuhan Italia yang mengecewakan dan penurunan belanja konsumen di Prancis membuat para investor menghindari Eropa. Sementara indeks saham London melemah 0,6% kendati raksasa energi Inggris BP mengumumkan laba kuartal III naik dua kali lipat karena naiknya harga minyak mentah. Adapun sebagian besar pasar saham Asia naik pada penutupan perdagangan Selasa. Para investor menyambut komentar Presiden AS Donald Trump bahwa AS dan Tiongkok dapat mencapai kesepakatan perdagangan yang hebat. Hal ini meredakan ketegangan karena Trump dilaporkan siap menjatuhkan tarif lagi terhadap seluruh barang impor Tiongkok. Bloomberg News melaporkan bahwa Gedung Putih menyiapkan tarif-tarif baru, jika perundingan antara Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada pertemuan puncak G-20 bulan depan menemui kegagalan. Trump dikabarkan siap mengumumkan tarif atas barang impor Tiongkok senilai US$ 267 miliar pada Desember 2018. Pemerintah AS sudah menjatuhkan tarif atas barang Tiongkok senilai US$ 250 miliar sehingga dengan tarif baru praktis semua impor Tiongkok ke AS dikenai tarif. Meski begitu, indeks Shanghai rebound dari kejatuhan di awal perdagangan hingga ditutup naik 1%.

Para investor juga menyambut baik pelonggaran ketentuan buyback saham. Namun yuan terus tertekan dan menyentuh level terendah dalam 10 tahun terhadap dolar AS. Kalangan analis memperkirakan yuan dapat menyentuh level tujuh terhadap dolar AS. Seruan Merkel Dari Berlin, Selasa, Merkel meminta swasta Jerman untuk menangkap peluang-peluang ekonomi yang sangat besar di Afrika. “Sekian tahun lamanya kita sangat fokus ke Asia. Saya pikir di masa depan kita harus lebih mengalihkan pandangan ke Afrika. Benua ini menyimpan potensi pertumbuhan yang sangat besar,” ujar Merkel, saat berbicara dalam sebuah forum investasi. Forum bernama Compact with Africa ini diluncurkan tahun lalu oleh Merkel, saat Jerman menjabat kepresidenan G-20. Inisiatif ini bertujuan membantu negara-negara Afrika menarik investasi swasta beserta bantuan finansial dan teknis. Balasannya, mereka harus menjalankan reformasi untuk meningkatkan iklim bisnis, seperti memerangi korupsi dan memperbaiki penegakan hukum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *