Categories
Berita

Ditangkap Thailand Pada 14 Agustus 2020

Ditangkap di Thailand pada 14 Agustus 2003 dan ditahan di Yordania. Pada 4 September 2006, ia dipindahkan ke kamp tahanan militer milik Amerika Serikat di Guantanamo, Kuba.) Saya tidak tahu. Saya tidak begitu kenal dengan dia. Saya sejak awal tidak pernah dilibatkan dalam perencanaan. Mungkin saya dianggap tidak penting. Memang, beberapa hari sebelum peledakan, saya datang ke Bali.

Namun persiapan peledakan sudah mencapai 90 persen. Apakah Anda pernah bertemu dengan Hambali sebelum Bom Bali I? Pernah bertemu satu kali di Jakarta pada Desember 2000, jauh sebelum Bom Bali I. Tapi waktu itu saya tidak tahu mana orang yang bernama Hambali. Belakangan, saya tahu setelah Dulmatin bercerita kepada saya. Bagaimana hubungan Anda dengan Hambali? Seperti apa orangnya? Tidak begitu dekat karena saya baru bertemu satu kali.

Dalam pertemuan pada Desember 2000 di Jakarta, Hambali lebih banyak ngobrol dengan Dulmatin. Orangnya serius dan suaranya keras. Bagaimana pandangannya tentang ”jihad”? Siapa sasarannya? Yang saya tahu, Bom Bali I sebagai balasan atas pembantaian kaum muslimin di Palestina. Kepada mereka, saya katakan sasaran peledakan terhadap orang bule itu tidak tepat. Orang bule itu bukan Israel dan tidak ada kaitannya dengan pembantaian kaum muslimin di Palestina.

Apakah Hambali sejalan dengan tiga penggerak utama peledakan Bom Bali I, yaitu Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra? Iya. (Umar enggan menjelaskan lebih jauh.) Apakah Anda sejalan dengan Hambali? Dari awal saya tidak sepaham dan tidak setuju dengan Bom Bali I. Ketika bom meledak, saya merasa bersalah dan sedih karena tidak bisa mencegah dan menahan mereka. Ketika Hambali ditangkap, Anda berada di mana? Satu bulan setelah kejadian Bom Bali I, tepatnya November 2002, saya sudah berada di Filipina.

Sebelum ke Filipina, beberapa hari setelah kejadian, saya datang ke Solo dalam pertemuan yang membahas evaluasi Bom Bali I. Saat itu Hambali sudah tidak ada. Apakah Anda pernah menjalin kontak dengan Hambali setelah dia ditangkap? Tidak. Saya mengetahui kabar tentang dia dari media. Bagaimana awalnya Anda bisa ikut latihan militer di Afganistan dan Filipina? Saya dari kecil sampai SMA di Pemalang (Jawa Tengah), kemudian kuliah di Yogyakarta. Setelah itu saya mau ke Malaysia untuk mencari kerja.

Di sana saya ditawari Mukhlas, senior saya, untuk ikut latihan militer di Afganistan. Setelah Afganistan kemudian Filipina. Bagaimana pendapat Anda tentang ISIS? Tentu saya berbeda ideologi dengan yang pro-ISIS, tapi menurut saya ISIS sebaiknya tidak berkembang di Indonesia karena pemikirannya sangat berbahaya. Menurut saya, apabila mau ”berjihad”, jangan di Indonesia karena di sini tak ada yang harus diperangi.

Di LP ini ada tiga napi ISIS dan mereka tidak bergaul dengan kami karena memang kami dianggap kafir. Jadi mereka hanya mau bergaul dengan napi lain selain kami dan tidak mau salat berjemaah. Mereka biasanya melakukan salat setelah kami salat. Mereka benar-benar tak mau diskusi karena merasa paling benar dan tidak sopan, bahkan dengan orang yang lebih tua. Kami sebenarnya tidak setuju ada napi pro-ISIS di sini. (Di bangsal teroris hanya ada 10 narapidana.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *