Categories
Uncategorized

Anda Bilang Pemikiran ISIS Sangat Berbahaya

Seperti apa pemikirannya? Apa yang membuat Anda tidak setuju dengan mereka? ISIS itu Khawarij. Khawarij adalah paham atau kelompok Islam yang menganggap orang yang tidak sepaham dengan kelompoknya kafir dan halal dibunuh. Mereka memaksakan paham mereka. Bagi saya, jihad itu berperang di negeri-negeri kaum muslimin yang dizalimi oleh negara-negara penjajah.

Misalnya di Palestina dan Afganistan. Tidak untuk Indonesia, karena umat Islam (di Indonesia) masih diperbolehkan beribadah. Menurut Anda, apakah program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) efektif? Mereka biasanya mengadakan diskusi, mengkaji buku, dan menonton film. Program deradikalisasi binaan BNPT, menurut saya, kurang efektif karena mereka hanya datang beberapa bulan sekali.

Mereka tak tahu kami secara personal, yang tahu adalah petugas LP. Kalau ingin mengeluh, saya mengeluh ke mereka (petugas). Kalau saya sakit, mereka yang tahu. Curhat juga ke mereka. Justru yang paling mengubah saya adalah obrolan dengan sesama napi selain teroris. Saya jadi tahu ada begitu banyak cerita hidup dan tak melulu berpikir bahwa pendapatku yang paling benar. Apa saja kesibukan sehari-hari Anda di sini? Saya jaga kantin dan koperasi.

Kantinnya menjual makanan berat, seperti sate dan sayur, serta barang kebutuhan sehari-hari, seperti sabun, pasta gigi, dan rokok. Karena aktif jaga kantin, saya jadi banyak mengobrol dan mendengar cerita-cerita dari napi lain. Ceritanya seru, terutama napi narkotik. Apakah Anda jadi pengibar bendera lagi dalam upacara Hari Kebangkitan Nasional? Tahun ini saya tidak menjadi pengibar bendera seperti tahun lalu karena kaki saya habis dioperasi untuk mengambil peluru.

Tapi saya pasti ikut upacara karena juga menandai satu tahun saya berada di sini. Jadi ini anniversary saya. (Sebelumnya, Umar ditahan di Markas Komando Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.) Nanti, saat 17 Agustus, baru saya jadi pengibar bendera lagi. Keluarga Anda rutin berkunjung? Istri saya (Fatimah Zahra) sekarang tinggal di Surabaya dan masih rutin berkunjung. Kami belum punya anak. Saya menikah pada Juni 1998.

Istri saya adalah anak pendeta Katolik di Filipina. Dia mualaf. Sewaktu acara pernikahan, keluarga istri saya yang nonmuslim datang ke kamp Abu Bakar Assidiq di Filipina. Saat itu mertua khawatir jika hadir akan dibunuh karena mereka Katolik. Saya yang menjamin keamanan mereka untuk hadir dan menginap. Biasanya, dalam acara pernikahan, ada tradisi salvo atau menembak ke udara.

Tapi, demi keamanan keluarga istri, perayaan itu ditiadakan. Acara berlangsung damai, kami berfoto dan makan bersama, tak ada masalah walaupun beda agama. Apa yang akan Anda lakukan kalau bebas nanti? Kembali berkumpul dengan keluarga yang ada di Jawa Timur dan mencoba berdagang.

Website : kota-bunga.net

Categories
Berita

Ditangkap Thailand Pada 14 Agustus 2020

Ditangkap di Thailand pada 14 Agustus 2003 dan ditahan di Yordania. Pada 4 September 2006, ia dipindahkan ke kamp tahanan militer milik Amerika Serikat di Guantanamo, Kuba.) Saya tidak tahu. Saya tidak begitu kenal dengan dia. Saya sejak awal tidak pernah dilibatkan dalam perencanaan. Mungkin saya dianggap tidak penting. Memang, beberapa hari sebelum peledakan, saya datang ke Bali.

Namun persiapan peledakan sudah mencapai 90 persen. Apakah Anda pernah bertemu dengan Hambali sebelum Bom Bali I? Pernah bertemu satu kali di Jakarta pada Desember 2000, jauh sebelum Bom Bali I. Tapi waktu itu saya tidak tahu mana orang yang bernama Hambali. Belakangan, saya tahu setelah Dulmatin bercerita kepada saya. Bagaimana hubungan Anda dengan Hambali? Seperti apa orangnya? Tidak begitu dekat karena saya baru bertemu satu kali.

Dalam pertemuan pada Desember 2000 di Jakarta, Hambali lebih banyak ngobrol dengan Dulmatin. Orangnya serius dan suaranya keras. Bagaimana pandangannya tentang ”jihad”? Siapa sasarannya? Yang saya tahu, Bom Bali I sebagai balasan atas pembantaian kaum muslimin di Palestina. Kepada mereka, saya katakan sasaran peledakan terhadap orang bule itu tidak tepat. Orang bule itu bukan Israel dan tidak ada kaitannya dengan pembantaian kaum muslimin di Palestina.

Apakah Hambali sejalan dengan tiga penggerak utama peledakan Bom Bali I, yaitu Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra? Iya. (Umar enggan menjelaskan lebih jauh.) Apakah Anda sejalan dengan Hambali? Dari awal saya tidak sepaham dan tidak setuju dengan Bom Bali I. Ketika bom meledak, saya merasa bersalah dan sedih karena tidak bisa mencegah dan menahan mereka. Ketika Hambali ditangkap, Anda berada di mana? Satu bulan setelah kejadian Bom Bali I, tepatnya November 2002, saya sudah berada di Filipina.

Sebelum ke Filipina, beberapa hari setelah kejadian, saya datang ke Solo dalam pertemuan yang membahas evaluasi Bom Bali I. Saat itu Hambali sudah tidak ada. Apakah Anda pernah menjalin kontak dengan Hambali setelah dia ditangkap? Tidak. Saya mengetahui kabar tentang dia dari media. Bagaimana awalnya Anda bisa ikut latihan militer di Afganistan dan Filipina? Saya dari kecil sampai SMA di Pemalang (Jawa Tengah), kemudian kuliah di Yogyakarta. Setelah itu saya mau ke Malaysia untuk mencari kerja.

Di sana saya ditawari Mukhlas, senior saya, untuk ikut latihan militer di Afganistan. Setelah Afganistan kemudian Filipina. Bagaimana pendapat Anda tentang ISIS? Tentu saya berbeda ideologi dengan yang pro-ISIS, tapi menurut saya ISIS sebaiknya tidak berkembang di Indonesia karena pemikirannya sangat berbahaya. Menurut saya, apabila mau ”berjihad”, jangan di Indonesia karena di sini tak ada yang harus diperangi.

Di LP ini ada tiga napi ISIS dan mereka tidak bergaul dengan kami karena memang kami dianggap kafir. Jadi mereka hanya mau bergaul dengan napi lain selain kami dan tidak mau salat berjemaah. Mereka biasanya melakukan salat setelah kami salat. Mereka benar-benar tak mau diskusi karena merasa paling benar dan tidak sopan, bahkan dengan orang yang lebih tua. Kami sebenarnya tidak setuju ada napi pro-ISIS di sini. (Di bangsal teroris hanya ada 10 narapidana.)